MEMULIAKAN ALLAH

Markus 7:1-8


Segala sesuatu yang kita lakukan dengan sepenuh hati biasanya akan membuahkan hasil yang baik atau, setidaknya, memberi sukacita. Namun, segala sesuatu yang dilakukan tidak dengan sepenuh hati hanya akan menghasilkan kepura-puraan dan keterpaksaan. Tidak ada sukacita di dalamnya.

Pengutipan nubuat Yesaya yang dilakukan oleh Yesus ini berada dalam konteks perdebatan mengenai perintah Allah dan adat istiadat manusia. Tentu saja, Yesus tidak anti terhadap kebersihan. Yang hendak ditekankan oleh Yesus adalah bahwa kehendak Allah seharusnya diutamakan melebihi segala sesuatu. Maka, Yesus pun berbicara tentang bagaimana seharusnya manusia memuliakan Allah. Tidak cukup hanya dengan perkataan semata, memuliakan Allah haruslah lahir dari hati yang bersungguh-sungguh. Sebab, memuliakan Allah bukan sekadar kata-kata, melainkan juga harus terwujud dalam setiap perbuatan. Dengan demikian, segala sesuatu yang dilakukan didasari oleh ketulusan dan kesungguhan, bukan keterpaksaan atau kepura-puraan. Itulah yang sungguh-sungguh dikehendaki oleh Allah.

Kita sering menyatakan bahwa kita ingin menyenangkan hati Tuhan. Artinya, kita ingin memuliakan Tuhan. Dengan apakah kita memuliakan dan menyenangkan hati Tuhan? Mari kita memuliakan dan menyenangkan hati-Nya dengan melakukan setiap kehendak-Nya, baik melalui perkataan maupun perbuatan kita. Dan semuanya itu hendaknya lahir dari hati yang sungguh mengasihi Tuhan. (Wasiat)

DOA: Ajar kami untuk memuliakan-Mu dengan sepenuh hati kami, ya Tuhan. Amin.

Share this Post